Sekilas Sejarah Pustaka Jaya

Pustaka Jaya lahir tahun 1971 di Jakarta atas saran Asrul Sani dan beberapa anggota Dewan Kesenian Jakarta yang menganggap perlu adanya penerbit buku-buku bermutu. Penerbitan buku-buku ketika itu mengalami kemacetan dan minat baca masyarakat sangat rendah. Penerbitan Pemerintah tak ada yang bisa berbuat banyak, sementara dari kalangan swasta tidak ada yang berani tampil karena resikonya memang terlalu besar. Untuk mengisi kebutuhan itu, Ali Sadikin menyerahkan masalahnya kepada Yayasan Jaya Raya yang diketuai Ir. Ciputra, yang beberapa waktu sebelumnya telah memberikan bantuan modal kepada beberapa wartawan untuk mendirikan majalah Tempo. Tidak lama kemudian, disepakati pembentukan badan penerbit buku yang tidak berbentuk badan hukum dan hanya merupakan bagian dari Yayasan Jaya Raya.

Pustaka Jaya pun mulai bergerak berbekalkan modal pinjaman sebesar dua puluh juta rupiah. Dewan pengawas terdiri dari delapan orang (masing-masing empat dari DKJ dan Yayasan Jaya Raya). Mereka adalah Ir. Ciputra (ketua), Asrul Sani, HB Jassin, Ramadhan KH, Ali Audah, Budiman Kusika, diketuai Ajip Rosidi dan Drs. Soeparno (Yayasan Jaya Raya) sebagai anggota urusan manajemen. Susunan pengurus PT Pustaka Jaya terdiri Ajip Rosidi (presdir), Rachmat Marta (Direksi) serta komisaris. Sedangkan Ir. Ciputra tetap sebagai ketua Yayasan beserta Adnan Rusdi Surjadi dan Iravati Sudiarso. Pustaka Jaya beralamat Jl. Kramat II, nomor 31 A, Jakarta Timur.

Misi Pustaka Jaya

Misi Pustaka Jaya pada umumnya menerbitkan buku-buku yang baik, khususnya buku-buku sastra. Selain itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan minat baca masyarakat melalui penerbitan buku-buku anak yang diharapkan dapat memupuk kebiasaan membaca. Oleh karena itu, jumlah buku anak-anak dan dewasa pada tahun 1975 berbanding empat-satu. Akan tetapi, tahun 1981 perubahan buku dewasa jauh lebih banyak dari buku anak-anak. Semua itu tergantung dari banyaknya jumlah naskah yang masuk.

Sasaran Penerbit Pustaka Jaya adalah seluruh masyarakat kota dan daerah. Sebagian buku-buku mereka beredar di P. Jawa, terutama di kota Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta, sedangkan di luar P. Jawa, buku Pustaka Jaya yang paling laku adalah di Palembang, Medan, dan Padang. Penjualan buku-buku tersebut umumnya tunai (dengan rabat 35%) atau kredit satu bulan (rabat 30%) melalui toko buku. Mereka tidak berminat memasarkan melalui perwakilan. Oleh karena itu, Penerbit Pustaka Jaya sampai sekarang masih berproduksi.


Peran Penting Pustaka Jaya dalam Sastra

Kedudukan Pustaka Jaya dalam perkembangan sastra dapat dilihat dari karya sastra yang diproduksinya. Pada tahun 1950, buku-buku sastra yang diterbitkan Balai Pustaka dicetak sekitar 4.000 atau 5.000 eks setiap judul. Dari oplah itu setiap tahunnya telah. mengalami cetak ulang, misalnya karya Idrus, Pramoedya, Achdiat, dll. Begitu pula dengan buku terjemahan dari Dostoyevski dan Shakespeare. Tahun 1971, buku Ramadhan KH (Royan Revolusi) dan Ali Audah (Jalan Terbuka) dicetak lebih sedikit.

Pengarang yang biasa mengirimkan tulisannya antara lain, untuk roman yaitu karangan Nh. Dini, Sutan Takdir Alisyahbana, Armjin Pane, Mochtar Lubis, dan lain sebagainya. Untuk La Barka karya Nh. Dini mencapai 20.000 eksemplar. Buku puisi yang biasa terjual banyak hanyalah karya Rendra. Sedangkan buku anak-anak yang paling laris adalah Tom Sawyer (Mark Twain) yang mendekati angka dua belas ribu eksemplar.

Keterkenalannya dalam dunia sastra dapat dilihat dari buku-buku yang diproduksinya. Buku-buku tersebut banyak yang telah dicetak ulang. Kini meliputi Seri Buku Bacaan Bergambar (untuk anak-anak yang baru pandai membaca), Seri Pustaka Anak (untuk usia 10-15 tahun berupa dongeng-dongeng Indonesia, Dongeng-dongeng Mancanegara, Kisah-kisah Klasik Barat, Kisah-kisah Modern Indonesia, Kisah-kisah Modern Terjemahan, Pengetahuan Populer serta Biografi Orang-Orang Terkenal, dan Seri Pustaka Prosa berupa Buku-buku Roman Asli, Buku-buku Roman Terjemahan, serta Kumpulan Cerita Pendek. Seri lainnya Pustaka Puisi, Pustaka Drama, Pustaka Esei dan Kritik, Pustaka Islam, Pustaka Seni dan Pustaka Daerah (Sunda dan Jawa).

Pasca Kepergian Ajip Rosidi ke Jepang
Tahun 1980-an Ajip Rosidi pergi ke Jepang dan mendelegasikan Pustaka Jaya kepada orang lain. Sayang beribu sayang, sejak saat itu Pustaka Jaya terpuruk. Pustaka Jaya yang tadinya memiliki standar buku-buku baik yang hendak dicetak, mulai bergeser ke memenuhi selera pasar. Karena semakin merugi, Ir. Ciputra berniat menyarankan Pustaka Jaya ditutup saja.

Lalu sekembali Ajip Rosidi dari Jepang, ia menahan keinginan Ir. Ciputra dan lalu membeli saham Pustaka Jaya yang ada di tangan Ir. Ciputra dan berupaya mengembalikan kejayaan Pustaka Jaya. Tapi waktu demi waktu, Pustaka Jaya semakin meredup. Untuk menghidupi Pustaka Jaya, cukup sering Ajip Rosidi menjual hartanya, seperti lukisan untuk menyambung umur Pustaka Jaya.

Pada akhir tahun 2011, Pustaka Jaya berada di titik nadir. Memutuskan untuk jalan terus membutuhkan tenaga baru (SDM) dan modal. Quo vadis Pustaka Jaya, kini ada di tangan para pembaca.

Iklan
Comments
One Response to “Sekilas Sejarah Pustaka Jaya”
  1. Jeckson. P berkata:

    bagai mana mendapat katalog buku Pustaka jaya dan kontaknya ke nomor berapa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: