Comments
8 Responses to “Oidipus Sang Raja”
  1. Winda Scorfi berkata:

    KARENA ketertarikan saya terhadap sesuatu hal yang berasal dari Yunani, pilihan saya langsung tertuju ke buku ini. Oidipus Sang Raja karangan Sophocles yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya, buku yang saya baca ini adalah cetakan pertamanya, tahun 1976 dan baru beberapa minggu ini saya rampungkan membaca.

    Sekilas nama Oidipus mengingatkan saya akan Oedipus Complex. Menurut Wikipedia, istilah Oedipus Complex digunakan Sigmund Freud untuk mengidentifikasi psikoseksual seorang anak, dalam hal ini anak laki-laki, yang memiliki keinginan untuk mendapatkan perhatian lebih/ cinta dari ibunya dan menganggap ayahnya adalah musuh. Sigmund sendiri mengadopsi istilah ini berdasarkan mitos Yunani tentang Raja Thebes, Oidipus. Kemudian, oleh para psikolog, Oedipus Complex diartikan dengan perilaku seorang pria yang memiliki kecenderungan lebih tertarik/suka pada wanita yang lebih tua darinya.

    ***

    Diceritakan di buku ini, Oidipus adalah seorang Raja di kota Thebes. Bagaimana sampai dia bisa menjadi Raja Thebes adalah karena sebelumnya Oidipus berhasil mengalahkan Sphinx dan membebaskan rakyat Thebes dari cengkeraman ketakutan. Saat dia diangkat menjadi Raja tidak ada satupun yang tahu bagaimana asal-usul Oidipus sebenarnya, hingga suatu ketika kota Thebes terserang suatu wabah. Sebagai seorang Raja adalah tugas Oidipus untuk menyelamatkan kota dan rakyatnya dari kebinasaan.

    Maka diutuslah Creon, saudara istrinya, Jocasta, pergi ke Delphi ke tempat para Dewa, untuk mencari petunjuk bagaimana cara menyelamatkan kota Thebes, sekembalinya Creon dari Delphi, tidak hanya petunjuk yang dibawanya tetapi juga kebenaran tentang asal-usul Oidipus yang mulai terungkap sedikit demi sedikit.

    Creon membawa petunjuk dari para Dewa kepada Oidipus. Dia mengabarkan, agar rakyat Thebes terbebas dari wabah maka Sang Pembunuh Raja Laius harus diasingkan, petunjuk yang setengah-setengah itu membuat Oidipus kebingungan, karena baik dia maupun pejabat istana tidak ada yang mengetahui siapa pembuhun Raja Thebes sebelumnya, Laius. Oidipus kembali memerintahkan Creon untuk mencari seorang peramal yang tahu segalanya, dia berpikir bahwa peramal itu pastilah tahu siapa pembunuh Laius.

    Saat sang peramal sudah berdiri di hadapan Oidipus, dia menolak untuk memberitahukan siapa pembunuh Laius, Oidipus menjadi berang dan memaksa si peramal yang bernama Teirisias untuk berbicara. Bukannya gembira dengan jawaban yang diberikan Teirisias, Oidipus malah semakin murka dan menyumpahi Teirisias serta Creon yang dituduh bersekongkol untuk menjatuhkan posisinya sebagai Raja. Tidak lama, istrinya, Jocasta datang kedalam istana karena merasa mendengar keributan antara Oidipus dan Creon, Jocasta berusaha menenangkan suaminya dan menceritakan kejadian yang menimpa suami terdahulunya, Raja Laius dan bagaimana sampai Laius terbunuh.

    Pada saat itulah datang utusan dari kota Corintha, yang mengabarkan bahwa ayah Oidipus, Raja Polybus telah meninggal. Di sinilah kebenaran besar terungkap.

    Siapakah sebenarnya Oidipus, Jocasta, Laius dan Polybus? Baca kelanjutan ceritanya di buku Oidipus Sang Raja.

    Moral cerita yang saya tangkap dari kisah Oidipus ini adalah: yang namanya takdir, pasti akan terjadi, bagaimanapun manusia berusaha mengingkarinya, itu akan sia-sia.

    Saya beri 3 dari 5 bintang >> karena jalan ceritanya bagus, bahasa yang digunakan, terutama ending ceritanya. Kalau aja dibikin lebih panjang lagi, pasti saya beri 4 bintang deh ^_^.

    Winda Scorfi
    Blogger Buku

  2. Fanda berkata:

    Ehm…berarti buku yang kita baca beda ya? Di bukuku istri Oidipus namanya Jocasta, bukan Jacosta. Raja Thebes ayah Oidipus namanya Laius bukan Laios. Hmm…jadi pengen tahu isinya beda atau gak..

    • Me berkata:

      hehehe..saya akui..itu typo (Jacosta seharusnya Jocasta) tapi klo untuk yang Laius, dibuku-ku penulisannya memang seperti itu :D *uda kurevisi kok, tinggal nunggu di publish ulang* makasih banyak yaahh uda diingetin, jadi ga enak :D

    • windascorfi berkata:

      #tolongabaikan komen saya sebelumnya (akibat baca terburu-buru dan lngsng main klik reply) *maafkan*

      enggak beda kok mba, itu bener-bener typo yg parah (my mistake) #malu
      Jacosta harusnya Jocasta dan Laios harusnya Laius
      makasih banyak uda diingetin, hiks :(

  3. windascorfi berkata:

    ini mana revisian-nya kok belum di posting? *bingung*

  4. Fanda berkata:

    JUJUR saat pertama kali memutuskan membeli buku ini dalam rangka mendukung gerakan #SavePustakaJaya (membantu penerbit Pustaka Jaya untuk kembali bangkit), aku ragu-ragu. Sebelum ini, aku belum pernah membaca karya sastra yang berbentuk drama. Bayanganku, pasti buku ini akan membosankan. Terus terang saja, drama yang kubayangkan itu adalah drama ala sinetron kita yang mendayu-dayu lebay itu, yang ternyata salah besar! Drama ala Yunani Kuno ini berbentuk ode, yaitu semacam puisi yang dinyanyikan. Dan ternyata…aku jatuh cinta pada buku ini!

    Drama dibuka dengan datangnya para demonstran yang mengelilingi altar di luar istana kerajaan Thebes. Oidipus, sang Raja Thebes pun keluar menanyakan keresahan mereka. Mewakili rakyat, seorang pendeta tua mengungkapkan bencana yang tengah melanda negeri mereka. Tanaman terserang hama dan wabah penyakit membawa kematian. Dalam pengaduannya itu, pendeta mengingatkan Oidipus akan aksi heroiknya dulu saat ia memecahkan teka-teki Sphinx sehingga menyelamatkan negara mereka. Sesungguhnya, karena jasanya itulah Oidipus kini menjadi Raja Thebes, yang memerintah bersama sang permaisuri, Jocasta.

    Ingin menolong rakyatnya, Oidipus lalu mencari tahu penyebab para dewa menimpakan bencana itu. Untuk itu Oidipus telah mengutus Creon iparnya untuk bersembahyang ke kuil dan bertanya pada Dewa Apollo. Jawabnya kemudian datang: semua malapetaka itu jatuh akibat sebuah pembunuhan yang belum terungkap. Pembunuhan atas Laius, Raja Thebes terdahulu, yang menurut kabar dibunuh sekawanan penyamun. Maka Oidipus pun, di depan seluruh rakyat bersumpah akan menemukan pembunuhnya dan menghukum dengan mengasingkannya dari Thebes.

    Ternyata jatidiri sang pembunuh bukanlah sepenuhnya tak diketahui. Ada pendeta agung bernama Teirisias yang diduga mengetahui rahasia ini. Maka Teirisias pun dibawa menghadap dan diinterogasi oleh Oidipus. Awalnya Teirisias menolak membeberkan jatidiri sang pembunuh, karena fakta yang ia ketahui sangat berbahaya. Namun karena didesak sang Raja, Teirisias pun membuka rahasia besar yang mengagetkan, sambil menuntut Oidipus menaati sumpahnya. Karena sang pembunuh Laius, menurutnya, adalah Oidipus sendiri! Bukan itu saja, Oidipus diyakini sesungguhnya adalah putra Laius yang dibunuhnya, dan Jocasta yang telah dikawininya.

    Tak terkatakan murkanya Oidipus, sampai ia menuduh Teirisias bersekongkol dengan Creon untuk mengkudeta tahtanya.

    Untuk menelusuri kebenaran, seorang gembala yang menjadi saksi mata tunggal kematian Laius pun dihadapkan. Dan kesaksiannya meneguhkan ketakutan Oidipus yang paling besar. Ternyata ia lah sang durjana yang telah disumpahinya. Ia lah yang telah meninggalkan noda yang tak terperikan bagi Thebes. Ia sudah membunuh ayah kandungnya, dan mengawini ibu kandungnya.

    Lalu bagaimanakah nasib Oidipus selanjutnya? Dan bagaimana ia sampai membunuh ayahnya dan mengawini ibunya tanpa menyadarinya?

    Membaca buku ini lumayan mengasyikkan. Meski kisahnya diceritakan lewat ode, namun pembaca justru bisa makin terhanyut dalam emosi para tokohnya, terutama pada Oidipus. Tak dinyana bentuk ode pun tetap dapat membuat sebuah kisah mengalir dengan sempurna, tanpa terasa berlebihan, namun tetap bermakna.

    Dari buku ini aku belajar banyak tentang bentuk ode ala Yunani Kuno. Selain para tokoh bergantian berpuisi, ada saat-saat jeda antara scene yang satu dan scene selanjutnya –di mana panggung kosong dari para tokoh—dan diisi oleh paduan suara yang menyanyikan penghantar antar babak. Mereka bergantian membawakan strophe dan antistrophe, yang lalu ditutup dengan epode. Antistrophe adalah bagian yang menjawab dan menyeimbangkan strophe. Jadi, kalau strophe dibawakan dengan nada berapi-api dan bersemangat, maka antistrophe akan menjawab dengan nada melankolis, dan begitu selanjutnya. Sedangkan epode merupakan semacam penutup atau kesimpulan dari suatu babak. Kurasa, di buku ini bagian epode itu diisi oleh Pemimpin Paduan Suara.

    Untuk memberikan gambaran isi buku ini, berikut adalah salah satu petikan puisi yang dinyanyikan Oidipus untuk menenangkan rakyatnya di bagian awal drama:

    “Telah kulihat semua penderitaanmu
    namun tak ada yang melebihi penderitaanku.
    Berbagai penderitaanmu adalah tunggal dan satu,
    tapi penderitaanku lebih dari satu.
    Kecuali menderita untuk diriku,
    aku menderita untuk dirimu,
    dan juga menderita untuk Thebes.”

    [penggalan dari bagian lain]

    “Baiklah! Akan kukejar jejaknya
    dari mula pertama.
    Akan kulunasi keadilan demi Dewa,
    demi rakyat dan demi yang wafat.
    Akan kaulihat aku memburu sang durjana
    demi Apollo dan demi Thebes negeri kita.”

    Dari dua penggal ode itu, aku bisa merasakan bahwa sebenarnya Oidipus adalah raja yang baik, yang mau ikut memikirkan penderitaan rakyatnya.

    Empat bintang untuk Sophokles yang telah menciptakan drama ini, dan bagi penerbit Pustaka Jaya yang telah menerjemahkannya dengan baik pula, hingga ode ini masih bisa kita nikmati meski telah diterjemahkan dari versi aslinya.

    Fanda
    Blogger Buku Indonesia

    Sumber: http://klasikfanda.blogspot.com/2011/11/oidipus-sang-raja.html

  5. Anik Soemarni berkata:

    BUKU DRAMA? Oh tidak…langsung itu reaksi yang keluar saat sekilas melihat isi buku ini. Tapi setelah membaca lembar pertama, lalu lembar kedua…eh kok akunya yang malah nggak bisa berhenti. Konfliknya seru, itu yang jadi alasan utama.

    Oidipus Sang Raja, adalah sebuah drama berbentuk ode tentang bergenre Tragedi Yunani Kuno. Oidupus Raja Negeri Thebes adalah seorang pemimpin yang pandai, bertanggung jawab dan memperhatikan keberadaan rakyatnya. Menemui rakyatnya yang datang mengadu karena bencana tidak berkesudahan yang melanda negeri mereka, Oidupus menjawah kesah mereka dan berusaha mencarikan jalan keluar. Oidipus pernah memecahkan teka-teki Sphinx sehingga bisa menyelamatkan negara mereka, sehingga ia sekarang Raja Thebes, yang memerintah bersama sang permaisuri, Jocasta . Dan sang pendeta yang mewakili rakyat mengingatkan, sehendaknya begitulah pula ia dapat menyelamatkan negeri ini untuk kedua kalinya.

    Oidipus pun mulai merunut kejadian mencari sebab musabab bencana yang menimpa negerinya.

    “Baiklah! Akan kukejar jejaknya
    dari mula pertama.
    Akan kulunasi keadilan demi Dewa,
    demi rakyat dan demi yang wafat.
    Akan kaulihat aku memburu sang durjana
    demi Apollo dan demi Thebes negeri kita.”

    Iapun mengutus Creon, adik iparnya untuk bertanya pada Dewa Apollo, dan akhirnya jawabanpun didapat: semua malapetaka terjadi akibat pembunuhan Laius, Raja Thebes terdahulu, yang belum terungkap yang menurut kabar dibunuh oleh sekawanan penyamun. Maka Oidipus pun, di depan seluruh rakyat bersumpah akan menemukan pembunuhnya dan menghukum dengan mengasingkannya dari Thebes.

    Penyelidikan dilakukan, didatangkanlah seorang Pendeta agung bernama Teirisias yang diduga mengetahui rahasia ini. Karena berbahayanya fakta yang ia ketahui, Teirisias menolak membeberkan jati diri sang pembunuh, namun karena sang raja mendesak, akhirnya ia mengatakan bahwa sang pembawa bencana atau pembunuh itu tidak lain adalah Oidipus sendiri. Marah meraja dan iapun menuduh sang pendeta bersekongkol dengan Creon untuk menggulingkan tahtanya.

    Jocasta sang permaisuri yang dahulunya adalah istri Raja Thebes yang terbunuh ikut angkat bicara. Ia pun menenangkan Oidipus dan memberikan serentetan fakta. Bahwa dahulu suaminya mendengarkan Apollo bersabda bahwa ia akan dibunuh oleh puteranya sendiri. Namun menurut keterangan ia malah dibunuh oleh sekawanan penyamun. Lagipula puteranya mereka saat berumur tiga hari sudah dibuang ke hutan dengan dipaku kedua kakinya, jadi tidak mungkin Oidupuslah pembunuhnya.

    Namun Oidipus tidak serta merta senang, ia justru menceritakan kisah pribadinya. Ia yang dulunya adalah putera mahkota kerajaan Corintha, seorang pemabuk mengejeknya mengatakan bahwa ia bukan putera raja, dan iapun melarikan diri.
    Ia bertanya pada Apollpo dan justru mendapatkan nujuman bahwa ia akan membunuh ayahnya dan mengawini ibu kandungnya. Maka dari itulah ia semakin tidak ingin kembali ke Corintha. Dan malangnya saat berada di desa Pochis, persimpangan jalan menuju Delphi ia membunuh seorang laki-laki tua yang menaiki kereta yang menghadangnya.

    Dan jika ia bukanlah putera kerajaan Corintha, maka ia putera siapa? Siapa ayah dan ibunya? Lalu siapa pembunuh Raja Thebes terdahulu, sekawanan penyamun atau dirinya?

    Saksi kunci dihadirkan, dia adalah seorang gembala yang akhirnya mengungkap semuanya. Tragedi yang tidak terperikan, bahwa semua tuduhan itu adalah benar, bahwa ia, Oidipus Sang Raja telah membunuh ayah kandungnya, mengawini ibu kandungnya dan mendapatkan keturunan darinya.

    Kini tak ada duka melebihi dukamu.
    Tanpa ampun derita melanda dirimu,
    Mengkhianati bahagiamu yang dulu.
    O. Oidipus, alangkah malangnya sejarahmu!
    Ayah dan anak satu perahu.
    Ayah dan anak menancap bajak di sawah satu.
    Wahai kenapa sawahnya diam saja?

    Kesedihan, tragedi, menimpa, tapi Oidipus tidak melupakan sumpah yang justru harus ia. Ia menusuk kedua matanya hingga buta, dan meminta dirinya dibuang dari istana. Lalu bagaimana nasib istri yang juga sekaligus ibu kandungnya. Juga bagaimana nasib kedua anak perempuannya?

    Tidak disangka, drama ini bisa membuat aku justru ketagihan dan tidak berhenti melahap lembar demi lembarnya. Apalagi puisi yang diterjemahkan sangat enak dibaca, rima yang terjaga, sehingga artinya tetap sampai dan keindahannya tetap elok terjaga. Salut untuk almarhum Rendra.

    ***

    Sophokles (497/496/495 SM – 406/205 SM) adalah seorang penulis Yunani Kuno yang telah menulis sebanyak 123 drama. Hanya 7 dramanya yang selamat dengan utuh. Sophokles adalah penulis kisahtragedi terbesar kedua dari 3 orang dalam kategori tersebut di Yunani Kuno, lainnya adalah Aeskhilusdan Euripides.

    Oidipus Sang Raja (Yunani kuno: Οἰδίπους Τύραννος Oidipous Tyrannos), juga dikenal dengan judul Latinnya, Oedipus Rex, adalah drama tragedi Athena gubahan Sofokles. Drama ini pertama kali dipentaskan pada tahun 429 SM.[1] Dari tiga drama Thebes yang dibuat oleh Sofokles, drama ini adalah drama kedua yang dia buat, namun secara kronologis, drama ini adalah cerita pertama, diikuti oleh Oidipus di Kolonos dan Antigone. Selama berabad-abad, drama ini oleh banyak orang dianggap sebagai salah satu drama tragedi Yunani terbaik.

    Anik Soemarni
    Blogger Buku Indonesia
    Sumber: http://anindyamaharani.blogspot.com/2011/11/review-oidipus-sang-raja.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: