Comments
2 Responses to “Orang dan Bambu jepang”
  1. Oky Septya berkata:

    AJIP ROSIDI, bermukim selama 22 tahun di Jepang sebagai gai-jin (orang asing). Ia mengamati keseharian orang-orang jepang lalu menuangkannya dalam 28 esai yang dimuat dalam berbagai surat kabar lalu kemudian dibukukan ini.

    Banyak kisah-kisah menarik yang diceritakan oleh Ajip Rosidi tentang Jepang, seperti sistem pemerintahan, sistem perkerataapian, perayaan-perayaan, dan sifat-sifat serta budaya orang Jepang yang menjadi wacana baru bagi saya.

    Misalnya saja, dalam esai Perkertaapian, hlm 27, “…dalam sebuah kompleks stasiun kita dapat menemukan beberapa stasiun kereta api dari berbagai macam perusahaan yang mempunyai berbagai macam tujuan pula.” yang merupakan sebuah pengetahuan baru bagi saya karena selama ini saya pikir lumrah dimana-mana perusahaan Kereta Api dimonopoli satu lembaga, seperti di Indonesia.

    Dalam esai Berobat, hlm.88, “…Di Jepang, setiap orang (juru rawat dan juga dokter) seperti selalu berlari-lari.”dan bahkan Ajip Rosidi menambahkan bahwa ruang jaga perawat disana tidak ada kursi sehingga saat bekerja mereka benar-benar total. Sebagai perbandingan dari kinerja juru rawat di RS Indonesia yang belum setotal perawat-perawat Jepang–yang saya amini, tentunya.
    Meskipun begitu, Ajip Rosidi dengan sukses menggambarkan kearifan dan kesederhanaan budaya Jepang yang sampai sekarang masih dianut dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari oleh orang Jepang. Seperti yang digambarkan dalam esai berjudul Hanami dan Tahun Baru, bahwa orang Jepang tahu cara berpesta dan bersenang-senang. Kearifan dalam budaya berkata jujur dan mengembalikan barang yang bukan hak milik ke kantor polisi. Sebagaimana juga rasa tanggung jawab tinggi yang tercermin dalam pelayanan pegawai negeri di sektor publik dan pemerintahan yang patut kita teladani.

    Pendapatnya tak lepas dari prinsip, pandangan, dan kebudayaan orang-orang Jepang yang familiar sekali bagi saya karena saya sering sekali baca komik-komik jepang sejak kecil. Hanya saja Ajip Rosidi terlalu berat sebelah dalam menceritakan sudut pandanganya. Menjelekkan negara sendiri disaat yang sama memuja negara lain terasa tidak pas. Maksudnya baik sih, demi membangun negeri yang masih carut marut karena pemerintahan yang buruk. Tapi lama-lama jadi terasa mengganggu. Mungkin sekali dua kali menyindir tidak masalah, tapi kalau terlalu sering bisa membuat pembaca risih. Malah terkesan kurang bijaksana dalam berpendapat. Walau beberapa esai terakhir orang Jepang itu sendiri pun lebih banyak disindir karena kekurangannya. Tapi, menurut saya, sindiran yang overlapping terhadap negeri sendiri dalam setiap esai justru mengurangi keindahan Jepang secara keseluruhan. Saya memang tidak pernah cocok dengan gaya bertutur dan kritik nyinyir meski beberapa orang menyukainya.

    Sayang sekali buku ini terlalu tipis untuk diceritakan semuanya, jadi biarlah sepenggal saja yang saya ungkap. Sisanya bisa dilanjut baca sendiri. Hehe. Yang jelas, bagi pecinta Jepang, tak ada salahnya melengkapi koleksi bacaan dengan buku ini, lumayan buat pendalaman saat nanti baca komik, jadi bisa lebih memahami sistem keseharian yang akrab ditampilkan dalam keseharian karakter komik.

    Oky Septya
    Blogger Buku Indonesia
    Sumber: http://sinopsisuntukmu.blogspot.com/2011/11/orang-dan-bambu-jepang.html

  2. Eko Wurianto berkata:

    Yang Inferior selalu berkiblat pada yang Superior. Karena itu, membaca sisi kehidupan orang Jepang dari seorang yang pernah tinggal di sana selama 22 tahun menjadi sangat menarik.

    Ajip Rosidi, penulis buku ini, menjadi Profesor tamu di Jepang sejak tahun 1981 hingga 1994. Selama kurun waktu itu, ia mengamati Jepang beserta ragam budaya dan orang – orangnya. Kita bersyukur bahwa Ajip tidak sekedar mengamati namun juga menuliskannya menjadi sebuah buku sehingga kelak banyak orang yang juga akan mengetahui sisi kehidupan sebuah Negara maju.

    Sebagaimana kalimat yang saya tulis di awal, di banyak tempat dalam buku ini, Ajip banyak membandingkan Jepang dengan Indonesia. Namun, Ajip membandingkannya bukan karena merasa rendah diri. Yang saya rasakan, Ajip merasa “perih” karena sebenarnya Indonesia bisa lebih baik daripada Jepang.

    Dalam bab Berobat, Ajip menuturkan bahwa ia pernah mengalami serangan jantung ketika berada di Indonesia. Ia pun berobat ke Rumah Sakit jantung. Di sana sang dokter mengatakan bahwa ia harus dioperasi by-pass karena ada penyumbatan. Ajip mengatakan bahwa kalau harus dioperasi ia akan melakukannya di Jepang karena ia memiliki asuransi di sana. Berbekal surat dan video rekaman ketika ia dikatater oleh dokter Indonesia ia berobat ke dokter Aihara. Dan apa kata dokter Aihara? Ajip tidak perlu dioperasi karena penyumbatan itu hanya pada saluran darah yang kiri!

    Di rumah sakit Jepang pun Ajip mengamati betapa pasien sangat dihargai. Berbeda dengan kebanyakan rumah sakit di Indonesia, rumah sakit di Jepang tidak mewajibkan pasien membayar jaminan ketika akan dirawat di rumah sakit. Kata Ajip, Rumah Sakit berkewajiban merawat orang sakit tidak peduli apakah ia punya uang atau tidak (halaman 87). Beberapa waktu lalu saya melihat berita tentang orang sakit yang tidak mendapatkan perawatan di sebuah rumah sakit di Surabaya. Baru setelah ditayangkan di televisi, beberapa pejabat berduyun – duyun ke Rumah Sakit itu dan menjamin perawatannya!

    Yang berikutnya, Ajip mengamati juru rawatnya. Di kantor para juru rawat itu tidak ada kursi! Di kantor juru rawat itu hanya ada sebuah meja bundar tempat dimana para juru rawat melakukan sesuatu. Ya Alloh, jadi selama menjalankan tugas, para juru rawat itu terus menerus berdiri! (halaman: 88).

    Kalau ada panggilan dari kamar pasien, para juru rawat itu berlari menuju kamar pasien. Bayangkan, berlari! Dan, tidak ada televisi untuk kantor juru rawat. Dokter di Jepang seringkali memeriksa tekanan darah pasien sendiri. Ketika ke rumah sakit, marilah kita sesekali mengamati keadaan rumah sakit kita dan membandingkan dengan pengamatan Ajip di Jepang.

    Dalam bab Negara Industri, Ajip mengamati listrik di Jepang. Jepang adalah Negara industri yang maju. Namun, Jepang hanya menggunakan tegangan listrik 110 Volt. Kita yang berkeinginan agar menjadi Negara industry yang juga maju mengubah tegangan listrik 110 volt itu menjadi tegangan 220 volt. Dan biaya untuk pengubahan tegangan itu dibebankan kepada konsumen.

    Tegangan listrik yang 110 volt di Jepang mencukupi kebutuhan rakyat Jepang. Selama tinggal di Jepang selama 22 tahun, Ajip hanya mengalami mati listrik selama satu kali saja! Dan itu pun diberitahukan sebulan sebelumnya! Bagaimana dengan Indonesia? Tidak heran jika Taufik Ismail mengatakan bahwa ia Malu Menjadi Orang Indonesia. Indonesia belum juga menjadi Negara industry bahkan menjadi Negara penghutang. Dan listrik 220 volt itu sedemikian seringnya mati. Di tempat saya, dengan hanya turun hujan selama beberapa jam saja, listrik bisa mati tanpa saya ketahui apa sebabnya. Dalam sehari bisa sampai lima kali mati listrik. Entah berapa barang elektronik yang rusak karena seringnya turun tegangan dan mati listrik itu.

    Kita tentu ingin sekali menjadi warga dari sebuah Negara yang makmur dan bermartabat layaknya Jepang. Sayangnya kita seringkali terjebak pada pemikiran bahwa sebuah Negara yang maju pastilah Negara yang menarik secara fisik. Karena itulah kita fokus pada berbagai hal yang bersifat fisik. Gedung – gedung tinggi dibangun, mall – mall banyak terdapat di sudut – sudut kota tanpa mempertimbangkan tata kota yang baik. Namun kita melupakan pembangunan manusianya. Ciri – ciri fisik memang menjadi salah satu penanda kemakmuran, namun jangan lupa bahwa yang menciptakan kemakmuran adalah manusianya. Kita belum berhasil dalam membangun manusia. Banyak dari kita yang lebih mementingkan diri sendiri. Korupsi semakin sulit saja diberantas. Itu salah satu contohnya.

    Ajip menceritakan bambu Jepang hingga Yakuza dalam buku ini. Namun sayang sekali, ia tidak menceritakan tentang gempa. Gempa adalah salah satu ciri dari Jepang. Saya ingin sekali mengetahui bagaimana Jepang mengantisipasi gempa baik secara fisik maupun pembelajaran kepada warganya.

    Namun begitu, meskipun bisa jadi sekarang semua sudah banyak berubah di Jepang, buku ini tetap layak kita baca sebagai salah satu referensi untuk mengetahui sisi kehidupan Jepang.

    Eko Wurianto
    Blogger Buku Indonesia
    Sumber: http://hurufbuku.blogspot.com/2011/12/orang-dan-bambu-jepang-catatan-seorang.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: