Ramayana

Kumpulan review/resensi “Ramayana” karya gubahan P.Lal. Diterjemahkan oleh Djoko Lelono.

Terbit 2008 oleh Pustaka Jaya | Binding: Paperback | ISBN: 978-979-419-176-7 | Halaman: 448

Iklan
Comments
One Response to “Ramayana”
  1. Tika berkata:

    Awalnya, saya mengira buku Ramayana yang saya terima ini adalah Ramayana versi Indonesia. Tetapi, ternyata ini adalah versi asli Ramayana yang ditulis oleh Walmiki, dengan penerjemahnya P. Lal. Saya sendiri sebenarnya tidak tahu apa perbedaan di antara keduanya, tetapi saya rasa pasti ada bedanya, karena ketika sebuah karya sastra disadur dari negara aslinya, ia pasti akan mengalami adaptasi dan asimilasi dengan kebudayaan setempat. Dengan membaca Ramayana versi asli, saya pikir saya akan lebih mudah memahami Ramayana versi Indonesia, jika saya membacanya kelak.

    Di zaman sekarang ini, kesusasteraan klasik mungkin sudah hampir tak memiliki tempat di hati masyarakat. Khususnya kesusasteraan klasik yang ditulis oleh anak bangsa. Coba saja kita lihat, siapa saja yang sudah membaca Negarakertagama ataupun Sutasoma? Saya sendiri pun belum membacanya sih, tetapi saya memiliki keinginan untuk membaca itu semua. Rasanya sayang sekali bukan, kalau kesusateraan yang usianya sudah ribuan tahun itu menghilang begitu saja ditelan bumi. Menurut saya, kesusasteraan itu juga harta suatu bangsa, sama seperti batik, keris, ataupun orangutan. Sayang sekali jika mereka tenggelam di telan zaman. Dan sangat menyedihkan sekali jika kita harus jauh-jauh pergi ke luar negeri untuk mendalami lebih jauh kesusasteraan negeri sendiri.

    Kisah Ramayana awalnya adalah sebuah kesusasteraan lisan, yang disampaikan dari mulut ke mulut. Dengan demikian, ada banyak versi Ramayana yang berkembang di masyarakat India. Tetapi, dipercaya bahwa kisah asli Ramayana terdiri atas tujuh bagian yang dibagi menjadi tujuh buku. Di bagian awal buku ini, penerjemah asli dari bahasa sansekerta ke bahasa Inggris, P. Lal, mengungkapkan bahwa buku pertama dan ketujuh bisa jadi tidak ditulis oleh Walmiki, karena itulah ia memotong sebagian besar kisah di buku itu yang ia anggap tidak relevan dengan kisah Ramayana. Dan memang, setelah membacanya sendiri, saya merasa ada beberapa hal yang kontradiktif dan membuat saya bingung. P. Lal berujar bahwa buku yang sedang saya baca ini tebalnya hanya sepertiga dari karya aslinya, yang membuat saya takjub. Saya sudah menduga sih, sebuah karya yang bisa disebut roman ini (karena menceritakan Rama sejak kecil hingga akhir hidupnya), pastilah sangat kompleks. Tetapi saya bersyukur karena buku ini tidak terlalu tebal, karena kalo nggak, saya pasti pusing bikin resensinya. Hahaha

    Di bagian halaman belakang buku ini, tempat sinopsis berada, dijelaskan bahwa Mahabarata bersifat heroik sedangkan Ramayana lebih banyak berisi erotis. Setelah membaca, ternyata memang benar adanya. Puisi-puisi di kisah ini, yang sangat banyak jumlahnya (sepertiga lebih saya rasa), banyak yang menggambarkan keindahan tubuh wanita secara gamblang. Saya rasa, saya tidak perlu menjelaskannya di sini. Cukup baca saja sendiri, ya…

    Buku ini juga disertai dengan glosarium bahasa sansekerta, terutama untuk bagian-bagian yang dianggap penting dari kisah ini. Adanya kamus kecil ini tentunya mempermudah pembaca, meskipun saya agak malas bolak-balik buka ke halaman belakang, jadi saya cuek aja terus membaca meski tidak tahu artinya. Ketika ada kosakata yang membuat saya benar-benar penasaran, barulah saya membuka halaman belakang dan mencari makna kata yang bersangkutan.

    Buku ini terdiri dari tujuh bagian yang awalnya merupakan buku-buku tersendiri. Jadi, saya membagi resensi saya menjadi dua bagian. Soalnya saya berniat untuk cerita semuanya, sampai akhir. Siap-siap dengan spoiler yaa… (Disini belum ada kok, jadi tenang aja. Hehehe..)

    Jadi, langsung saja saya ceritakan kisah epik Ramayana ini, yang telah mengguncangkan dunia…

    BUKU SATU BALA-KANDA

    Buku pertama kisah Ramayana dibuka dengan kisah seorang raja dari kerajaan Ayodya, Dasarata. Dasarata adalah seorang raja yang baik yang selalu melakukan darma dan memahami betul kitab suci Veda. Sayangnya, ia tak memiliki seorang pun putra yang membuatnya begitu bersedih hati.

    Suatu hari, ia teringat bahwa untuk mendapatkan sesuatu, ia harus memberikan persembahan. Persembahan yang terbaik saat itu adalah kuda. Sang raja pun memanggil para penasihatnya dari kalangan Brahmana dan mengajak mereka berunding tentang niatnya itu. Para brahmana menyambut baik dan memberikan saran mereka tentang apa yang sebaiknya raja itu lakukan supaya upacara persembahannya berlangsung dengan sempurna.

    Dengan bantuan Risyaringa, seorang brahmana suci, upacara persembahan pun berlangsung dengan sempurna. Ketika upacara itu selesai, diungkapkanlah ramalan bahwa Dasarata akan memiliki empat orang anak lelaki yang membawa nama keluarga Dasarata ke dalam kejayaan.

    Enam musim kemudian, lahirlah putra-putra raja tersebut. Istri pertama, Kausalya, melahirkan Rama yang ditakdirkan untuk menjadi penguasa jagad raya. Istri kedua, Sumitra, melahirkan putra kembar, Laksmana dan Satrugna, yang ahli dalam menggunakan senjata dan memiliki seperempat kekuatan Wisnu. Sedangkan istri terakhir, Kaikeyi, melahirkan Barata, yang memiliki seperempat kekuatan Wisnu dan seperempat kebijaksanaannya.

    Waktu pun berlalu. Keempat putra Dasarata itu tumbuh menjadi lelaki yang mengagumkan, tidak hanya dari segi fisik tetapi juga dari segi spiritual. Mereka adalah pangeran-pangeran yang gagah perkasa tetapi lembut dan rendah hati, juga memahami betul kitab suci. Dasarata yang mulai memikirkan perkawinan mereka tiba-tiba kedatangan seorang tamu, Wismawitra, seorang petapa suci.

    Kedatangan Wismawitra adalah untuk meminta Dasarata agar bersedia ‘meminjamkan’ putranya untuk melindungi upacara sucinya dari gangguan raksasa. Dasarata, yang begitu menyayangi Rama, keberatan dengan hal ini. Putra kesayangannya yang masih belia itu mana sanggup mengalahkan raksasa besar yang bahkan tak sanggup dikalahkan oleh para dewa. Apalagi, ternyata dalang dari semua itu adalah Rawana, raja para raksasa yang kejam.

    Wismawitra marah atas penolakan Dasarata, hingga bumi berguncang karenanya. Dasarata akhirnya disadarkan oleh penasihatnya, Wasista, akan maksud Wismawitra sebenarnya. Wismawitra bukan ingin mencelakakan Rama, tetapi justru ingin menunjukkan kepada dunia, siapa Rama sebenarnya. Wismawitra sendiri dapat dengan mudah mengalahkan para raksasa, tapi ia sengaja memilih Rama, supaya nama pangeran itu cemerlang. Akhirnya, Dasarata menyuruh Rama dan Laksmana untuk pergi bersama Wismawitra menumpas raksasa jahat kaki tangan Rawana itu, Marica dan Subalu.

    Di sini, mulai ada kontradiksi lagi yang membuat saya bingung. Meskipun di awal dikatakan bahwa yang menganggu pertapaan Wismawitra adalah Marica dan Subalu, tetapi yang dibunuh Rama kemudian adalah Tataka. Marica dan Subalu justru tidak muncul sama sekali. Mungkin itu juga akibat penyingkatan buku bagian satu ini. Jadi, mari kita diamkan saja perbedaan yang tidak penting itu dan melanjutkan jalannya cerita.

    Rama berhasil membunuh Tataka, seorang raksasi (awalnya saya kira ini typo, tetapi ternyata memang benar raksasi. Kata ini digunakan untuk penyebutan raksasa perempuan), meskipun awalnya Rama enggan membunuhnya karena ia seorang perempuan. Setelah mengalahkan Tataka, Rama menerima senjata-senjata sakti dari Wismawitra, yang konon mampu mengalahkan dewa, raksasa, gandarwa, dan naga.

    Rama kemudian diajak berkelana oleh Wismawitra, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Raja Janaka. Raja Janaka memiliki putri yang sangat cantik bernama Sita. Sita sebenarnya bukan putri kandung Raja Janaka. Sita ‘lahir’ begitu saja di ladang persembahan Raja Janaka, hingga ia diberinama seperti itu yang artinya adalah ‘jalur bajakan’.
    Hanya manusia luar biasa yang mampu menikah dengan Sita. Raja Janaka memberikan syarat bagi semua pelamar untuk mengangkat busur keramat yang dulu diberkati oleh Siwa. Tak ada seorangpun yang mampu mengangkat busur itu. Rama, dengan restu dari Wismawitra, akhirnya sanggup mengangkat busur sakti itu. Dengan demikian, Raja Janaka memutuskan untuk menikahkan putri kesayangannya dengan Rama.

    Pernikahan Rama dan Sita berlangsung meriah. Raja Janaka juga memberikan putri-putrinya kepada saudara laki-laki Rama lainnya, Laksmana, Satrugna, dan Barata. Dan, berakhirlah buku pertama.

    Sampai di sini, mungkin kalian bertanya-tanya kenapa nama istri Rama adalah Sita dan bukan Sinta. Sementara selama ini yang kita kenal sebagai pasangan Rama adalah Sinta. Dimana ada Rama, disitulah Sinta ada. Dan ternyata, jawabannya adalah… Pelafalan Sita dalam bahasa Sansekerta itu sama dengan Sinta. Tulisan aslinya sendiri adalah Seetha, seperti yang saya dapat di web valmikiramayanan.net. Silakan kunjungi sendiri dan baca online kalau mau. Di situ chapternya jauh jauh jauh lebih banyak daripada bukunya. Saya aja sempat siyok melihat buku pertama ini terdiri dari 77 chapter. Untung saya membaca versi singkatnya. Heehehe…

    BUKU DUA AYODYA-KANDA

    Buku kedua ini bercerita tentang Rama yang akan diangkat jadi raja baru Ayodya, menggantikan ayahnya yang sudah tua. Dasarata diceritakan sangat mencintai Rama, sehingga ia tidak akan bisa hidup tanpa anaknya itu. Upacara penobatan Rama sendiri segera ditetapkan, yang disambut Rama dengan kepatuhan terhadap ayahnya itu. Rama digambarkan sebagai orang yang sangat patuh kepada darma, dan tak pernah melakukan perbuatan buruk. Berikut sepenggalan puisi tentang Rama.

    Rama
    menghormati kaum brahmana
    selalu berhati iba
    bijaksana dalam darma
    memikirkan mereka yang perlu bantuan
    Rama
    seorang ksatria
    berbakti pada tugasnya
    menganggapnya jalan ke surga
    […]

    Rama
    tahu akan Darma
    dan Arta
    dan Kama

    […]

    Rama
    tak pernah iri
    tak pernah dengki
    tak pernah terlalu gembira
    tak pernah terlalu berduka
    Rama
    menguasai waktu
    dihormati di tiga dunia
    Begitulah
    kejayaan Rama
    Bahkan dunia pun ingin jadi hambanya

    Semua orang bergembira atas penobatan Rama menjadi raja. Namun demikian, ternyata ada satu orang yang tidak suka dengan hal itu. Ia adalah Mantara, seorang dayang tua bongkok, yang mengabdi kepada Kaikeyi, istri termuda Dasarata sekaligus ibu Barata. Ia menghasut Kaikeyi bahwa seharusnya anaknyalah yang menjadi raja dan bukannya Rama. Kaikeyi termakan hasutan Mantara, hingga ia meminta Dasarata agar penobatan Rama dibatalkan.

    Dulu, Dasarata pernah berhutang nyawa kepada Kaikeyi hingga ia berjanji akan mengabulkan dua permintaan Kaikeyi. Kaikeyi, yang sudah termakan hasutan Mantara, menggunakan janji yang diucapkan raja itu sekarang. Ia meminta Dasarata agar tidak jadi menobatkan Rama, dan menobatkan Barata sebagai gantinya. Yang kedua, ia ingin agar Rama diusir dari Ayodya selama 14 tahun.

    Dasarata menolak permintaan itu pada awalnya, tetapi Kaikeyi terus mendesaknya hingga ia tak memiliki pilihan lain. Kaikeyi, istri termudanya yang awalnya sangat ia cintai, berubah menjadi wanita licik dan jahat yang terbakar oleh api cemburu. Dasarata akhirnya memanggil Rama, dan menjelaskan permintaan Kaikeyi itu. Ia sangat sedih, karena bukan hanya Rama tidak jadi menjadi raja, tetapi juga karena ia harus dipisahkan dari Rama. Dan Dasarata tidak bisa hidup tanpa Rama.

    Rama mematuhi perintah ayahnya dengan tenang. Ia akhirnya pergi dari Ayodya dengan lapang dada. Sita dan Laksmana yang setia mengikuti kepergiannya. Ibunda Rama, Kausalya, sangat sedih melihat kepergian anaknya. Begitu juga Dasarata. Tetapi Kaikeyi sangat puas dan menyuruh orang bergegas memanggil Barata, yang saat itu kebetulan tidak ada di Ayodya, hingga ia tak tahu menahu soal Rama dan pengangkatan dirinya.

    Barata tiba di Ayodya disambut oleh ibunya dan kabar bahwa ia akan menjadi raja. Di luar perkiraan sang ibu, Barata tidak senang sama sekali dan marah luar biasa atas tindakan ibunya. Ia sangat menyayangi Rama. Mereka semua saling mengasihi dan mencintai, hingga tak mungkin saling mencelakai. Apalagi, Rama adalah kakak tertua yang dianggap sebagai dewa olehnya.
    Barata sangat marah dan tidak mau menduduki tahta yang seharusnya menjadi milik Rama itu. Dasarata sendiri terhimpit kedukaan dan rasa bersalah yang mendalam karena harus membuang anak kesayangannya. Ia akhirnya meninggal dunia. Meskipun demikian, Barata tetap menolak menduduki singgasana raja, yang ia anggap bukan haknya. Ia pun pergi dari Ayodya, menyusul Rama dan membujuknya untuk kembali ke Ayodya dan menduduki tahta seperti semestinya. Barata berkata, bahwa ialah yang akan menggantikan Rama, diasingkan selama 14 tahun dari kerajaannya. Rama menolak permintaan adik bungsunya itu. Ia berkata bahwa ini adalah janji yang ia buat dengan ayahnya, betapapun ayahnya terpaksa mengucapkan perintah itu. Ia berkata kepada adiknya bahwa ia akan menempuh jalan darma, dan tak berniat untuk bertahta di Ayodya.

    Mendengar kata-kata Rama, Barata yang bijaksana menjawab bahwa ia akan mematuhi perintah kakaknya itu. Ia akan memerintah Ayodya selama 14 tahun hingga masa pengasingan Rama selesai. Barata akan menjadi raja, tetapi ia akan tetap diasingkan sama seperti Rama. Ia tidak akan tinggal di istananya yang megah. Ia hanya akan makan umbi-umbian, akar, dan buah, tetapi ia akan tetap memerintah Ayodya sesuai keinginan Rama. Ia memerintahkan penasihat kerajaan untuk memindahkan kedudukannya ke hutan itu. Ia akan memerintah Ayodya dari sana dan akan melakukan segala halnya atas nama Rama. Ketika masa 14 tahun pengasingan Rama selesai, ia harus kembali ke Ayodya dan menjadi raja yang sesungguhnya. Jika Rama menolak, Barata tidak segan-segan akan bunuh diri, daripada ia harus menanggung beban itu.

    Di buku kedua ini, emosi pembaca mulai dipermainkan. Apalagi ketika bercerita tentang Mantara yang menghasut Kaikeyi dan Kaikeyi yang akhirnya buta mata hatinya karena tertutup kecemburuan terhadap Rama. Padahal, Rame menghormati Kaikeyi sama seperti menghormati ibunya sendiri. Saya benar-benar geregetan sekali dengan adegan ketika Kaikeyi menyampaikan kepada Raja Dasarata bahwa ia ingin Rama diturunkan dari penobatannya sebagai Raja dan harus diusir dari Ayodya. Emosi yang disampaikan begitu detail, hingga saya benar-benar merasa benci kepada Kaikeyi ini.

    Luapan kemarahan Barata kepada ibunya pun disampaikan dengan sangat bagus. Saya benar-benar bisa memahami perasaan Barata yang serba salah dan merasakan kemarahannya kepada ibunya. Saya juga merasakan sakitnya hatinya ketika ibunda Rama, Kausalya, menuduhnya bersekongkol dengan ibunya untuk menggulingkan Rama. Tetapi, Barata akhirnya berhasil meyakinkan Kausalya bahwa ia tidak tahu menahu akan rencana licik ibunya itu.

    BUKU KETIGA ARANYA KANDA

    Hampir separuh buku ketiga berisikan puisi, yang bercerita tentang kehidupan Rama, Sita, dan Laksmana di pengasingan. Di sini, konflik mulai muncul dengan kehadiran raksasa yang suka mengganggu dan memakan para petapa.

    Sarpanaka adalah seorang raksasi (raksasa perempuan) yang jatuh cinta kepada Rama. Dia menggoda Rama agar meninggalkan Sita dan menikah dengannya. Rama tentu saja menolak, yang membuat Sarpanaka marah dan berniat untuk menghabisi Sita. Laksmana memotong hidung dan telinga Sarpanaka, yang membuat raksasi itu melaporkan perbuatan mereka ke saudara-saudaranya, kawanan raksasa. Mereka marah luar biasa atas perbuatan Rama dan Laksmana, sehingga mengirimkan pasukan untuk menghabisi mereka semua. Akan tetapi, ternyata sepasukan raksasa itu mampu dihabisi dengan mudah oleh Rama dan Laksmana. Hingga akhirnya, pemimpin para raksasa yang tinggal di hutan itu, Kara, turun sendiri untuk menghabisi dua manusia itu. Kekuatan Rama dan Laksmana sangatlah hebat, alih-alih meninggal di tangan raksasa, mereka justru mampu membunuh Kara.

    Sarpanaka yang berhasil lolos melaporkan hal tersebut ke Rawana, raja dari segala raksasa, pemimpin kerajaan Alengka. Ia juga menceritakan tentang Sita, yang sangat cantik dan molek, yang membuat Rawana bernafsu untuk memilikinya. Rawana meminta bantuan Marica, yang awalnya ditolak olehnya. Marica pernah melawan Rama di buku pertama, yang membuatnya kapok berurusan dengan Rama. Ia juga berkata kepada Rawana bahwa merebut istri orang adalah bertentangan dengan darma. Rawana tak mau mendengar dan mengancam akan menghukum mati Marica jika ia menolak. Marica yang tak punya pilihan lain menuruti perintah rajanya itu.

    Marica dan Rawana pergi ke hutan tempat mereka bertapa. Marica menyamar menjadi seekor kijang emas yang sangat cantik, yang membuat Sita terpesona. Sita menyuruh Rama untuk menangkap kijang itu, meskipun Laksmana berkata bahwa kijang itu pasti tipuan. Kijang itu pastilah Marica yang menyamar dengan sihir, karena Marica memang ahli sihir. Sita tak mau mendengaran Laksmana dan terus merengek kepada Rama agar menangkap kijang itu. Rama yang sangat mencintai istrinya menuruti permintaan istrinya menangkap kijang mas itu yang terus berlari hingga jauh ke dalam hutan. Ia meminta Laksmana untuk menjaga Sita dan tak boleh pergi meninggalkannya.

    Rama terus mengejar kijang mas hingga jauh dari pondokan mereka. Kijang itu sangat gesit hingga Rama sulit menangkapnya. Akhirnya, Rama berhasil memanah kijang itu hingga mati. Ketika mati, kijang itu berubah ke wujud aslinya, Marica si raksasa. Ketika itulah Rama sadar bahwa ia telah masuk perangkap (Yee… Laksmana bilang juga apa!). Ia bergegas pergi ke pondoknya, untuk menemui istri dan adiknya.

    Tak jauh dari pondok Rama, Rawana yang bersembunyi menirukan suara Rama yang berteriak kesakitan. Teriakan itu membuat Sita cemas setengah mati, dan menyuruh Laksmana untuk menolong suaminya itu. Laksmana menolak, karena perintah Rama sudah jelas, ia harus melindungi Sita dan tak boleh pergi dari sisinya. Apalagi, Laksmana memiliki insting bahwa itu bukanlah kakaknya. Itu adalah seseorang yang menirukan kakaknya. Sita menangis tersedu-sedu dan menuduh Laksmana ingin memiliki dirinya selepas Rama mati. Laksmana tetap bergeming, yang membuat Sita semakin marah dan melontarkan tuduhan keji lainnya yang membuat saya jadi emosi dan sebal sama Sita. Hahaha

    Laksmana yang sakit hati akan lontaran pedas kata-kata Sita akhirnya pergi ke dalam hutan untuk mencari Rama. Rama justru marah kepada Laksmana yang meninggalkan Sita. Benar saja, setibanya di pondok mereka, Rawana telah menculik Sita untuk dibawanya ke Alengka. Sempat terjadi perkelahian antara Rawana dan Jatayu yang berusaha menolong Sita. Jatayu adalah burung separuh dewa yang menjadi teman Rama. Jatayu mati dalam pertarungan itu setelah Rawana memotong sebelah sayapnya.

    Kisah di buku ketiga ditutup dengan petunjuk bahwa Sugriwa, seorang wanara (arti sebenarnya adalah ‘manusia pohon’, mungkin cara orang Arya memanggil orang Dravida yang tinggal di hutan.red). Rama pun melakukan perjalanan untuk mencari Sugriwa bersama adiknya.

    Sama seperti di buku kedua, buku ketiga juga mengaduk-aduk emosi pembaca. Saya jadi sebal dengan karakter Sita dan juga Rama. Rama yang begitu sayang kepada istrinya sampai melupakan logikanya, padahal mereka baru saja membunuh segerombolan raksasa kaki tangan Rawana. Sita yang dengan keji menuduh Laksmana macam-macam, mulai dari ingin merebut Sita kalau Rama mati, bersekongkol dengan Barata untuk menggulingkan Rama, hingga berpura-pura setia pada Rama padahal sebenarnya tidak. Ah! Saya sebal sekali jadinya.

    Tokoh favorit saya dalam cerita ini memang Laksmana, yang setia dengan kakaknya, Rama. Laksmana ini mampu berpikir dingin dan juga sangat kuat. Meskipun di buku pertama diceritakan bahwa ia menikah dengan putri Raja Janaka yang lain, tapi di buku-buku setelahnya digambarkan bahwa ia belum menikah. Memang cukup banyak perbedaan di buku ini yang membuat saya sedikit bingung. Begitu juga karakter yang bejibun dan ungkapan-ungkapan dalam bahasa Sansekerta yang juga buanyak. Tapi, ceritanya cukup seru menurut saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: