Rumah Tangga yang Bahagia

Kumpulan resensi/review untuk “Rumah Tangga yang Bahagia” karya Leo Tolstoy. Diterjemahkan dari edisi bahasa Inggris A Happy Married Life terjemahan Margaret Wettlin oleh Dodong Djiwapradja.

Terbit 2008 oleh Pustaka Jaya (Cetakan Pertama, 1976) | Binding: Paperback | ISBN: 9789794193 | Halaman: 168

Comments
3 Responses to “Rumah Tangga yang Bahagia”
  1. Amang Suramang berkata:

    JUDUL yang jelas keliru sebenarnya dari judul yang seharusnya diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi “Family Happiness” (bukan “A Happy Married Life” yang kemudian seharusnya diterjemahkan menjadi “Kebahagiaan Rumah Tangga” dan bukan “Rumah Tangga yang Bahagia”. Tapi biarlah kekeliruan ini tidak menutupi hal-hal utama yang hendak disampaikan Tolstoy dalam novelia ini.

    Dalam Family Happiness-nya Tolstoy bercerita tentang seorang perempuan muda bernama Masha, Marya Alexandrovna, yang berusia 17 tahun. Masha jatuh cinta pada teman baik ayahnya sekaligus walinya, Sergei Mihailovich yang jauh jauh lebih tua darinya. Ini bukan hanya cerita jatuh cintanya Masha, tapi juga jatuh cintanya Sergei Mihailovich pada Masha. Cerita-cerita ini mungkin terjadi kan? Bukankah pria-pria menjelang paruh baya selalu menarik buat perempuan-perempuan muda? Hehehe… Lalu ketika akhirnya mereka menikah, berapa lama kebahagiaan dalam rumah tangga bisa dipertahankan?

    Topik yang kurang lebih sebangun dalam novel Anna Karenina dengan bahan “gagasan tentang keluarga” menjadi faktor dominan dan menentu bentuk struktur novel ini. Bagaimana Tolstoy memahami tentang gagasan berkeluarga? Apa yang menjadi kriteria baginya atas keluarga yang “baik” dan keluarga yang “buruk? Hal-hal inilah yang menarik ditarik dari cerita ini.

    Jika dibanding dengan Anna Karenina yang lebih banyak mengulas keluarga tidak bahagia, di novelia ini Tolstoy lebih fokus ke keluarga Sergei-Masha ini yang digambarkan di awal pernikahan mereka begitu hidup, bahagia dan lebih tepat lagi harmonis. Meskipun demikian ancaman menuju ketidakbahagiaan selalu ada, apalagi Masha masih begitu muda dan masih banyak belajar dari kehidupan.

    Dalam waktu tiga tahun perkawinan, apa yang semula bahagia mulai berubah ketika Masha terbuai dalam kehidupan perkotaan, digunjingkan orang, dan mulai masuk ke dunia dansa-dansi. Untunglah kejadian tidak berlangsung lama dan akhirnya hidup bahagia Masha-Sergei kembali terjadi.

    Dari sekian ini tampak yang menjadi indikator bagi Tolstoy untuk mencapai kebahagiaan rumah tangga adalah soal berikut ini:
    1. Kesetiaan atau ketidaksetiaan pada pasangan lain
    2. Garis nenek moyang, ia bedakan antara yang berasal dari keluarga lengkap dengan yang yatim-piatu, yang hidup dengan yang telah meninggal
    3. Penerus, kehadiran anak punya peran penting
    4. Pembagian tanggungjawab pada keluarga, hubungan lelaki-perempuan
    5. Tempat tinggal, mulai dari tempat yang nyaman seperti St. Petersburg hingga dusun-dusun terpencil di Rusia

    Wah, luar biasa bukan cara ia menuliskan ini semua? Tentu tidak mudah misalnya menyelami karakter Masha yang begitu naif memandang keluarga dan mencari cara untuk membahagiakan suaminya. Pada saat membaca cerita inilah aku suka iseng bertanya: darimana datangnya kata-kata ini? Apakah Tolstoy pernah mengalami dan menuliskan sendiri kisah kehidupan keluarganya? Karena rasanya, apa yang ditulisnya ini benar-benar murni, datang dari jiwa si karakter utama – Masha.

    Cara ia bertutur begitu mengalir, seperti sesuatu yang otomatis saja. Alami, mengalir, bisa mengaduk-aduk emosi, dan meskipun sedikit terasa menyeret-nyeret, tetap bisa menghadirkan kebijaksanaan bagi yang membacanya. Tolstoy bukan saja menulis jalan pikiran dan hati manusia , tapi meletakkan kepercayaan besar pada keduanya: pada akhirnya kemanusiaan manusia akan menang atas kegelapan hatinya. Betul-betul berkelas.

    Sumber: http://sudahkahkaubaca.multiply.com/journal/item/111/Kebahagiaan_Rumah_Tangga_Menurut_Leo_Tolstoy

  2. Berawal dari judulnya yang cukup membuat saya penasaran. Terlebih dari sinopsisnya yang menceritakan pernikahan seorang wanita belia dengan seorang pria yang sudah berumur dewasa.

    Setelah kematian ayah yang kemudian disusul kematian Ibunya, Marya Alexandrovna, yang biasa dipanggil dengan nama kesayangan ”Masha”, mengalami kemurungan yang sangat. Di usianya yang baru 17 tahun, segala keceriaan dalam dirinya lenyap. Ketika itulah seorang sahabat mendiang Ayah Masha datang berkunjung.

    Sergei Mikhailich adalah lelaki berumur 36 tahun yang menyenangkan, ia mampu menghadirkan kembali keceriaan di dalam diri Masha. Perasaan Masha terhadap lelaki itu dari hari kehari semakin melebihi dari rasa simpati biasa. Keadaan hati Masha yang berbahagia berpengaruh terhadap keimanannya terhadap Tuhan. Perasaan Masha menjadi semakin damai, pengaruh apapun yang dibawa Sergei Mikhailich telah membawa Masha ke arah positif kehidupannya.

    Tetapi lelaki itu masih belum menyatakan rasa cintanya terhadap Masha, padahal jelas-jelas sudah semua perasaan itu telah terwujud dalam perhatian, tatapan mata dan obrolan-obrolan kecil mereka. Tapi Sergei Mikhailich masih belum menyatakan cintanya kepada Masha. Tabukah jika seorang wanita mengucapkan cinta terlebih dulu terhadap Pria? Setidaknya untuk segera memastikan perasaan, daripada terombang-ambing khawatir bahwa cintanya tidak bersambut.

    Ternyata Sergei Mikhailich ragu untuk mengungkapkan perasaannya, perbedaan usia yang jauh antara ia dan Masha menjadi penyebab utamanya. Masha yang masih belia mana mungkin betah membina rumah tangga dengan lelaki yang sudah puas dengan kehidupannya sekarang. Bukankah masa muda itu begitu menggelora? Begitu berwarna? Mendamba dan bukannya bersahaja.

    Konflik inilah yang dibangkitkan penulis dalam cerita. Bagaimanakah kriteria rumah tangga bahagia itu? Apakah dengan saling berkorban demi kepentingan pasangan padahal menyiksa diri sendiri juga bisa dimasukkan ke dalam kriteria rumah tangga yang bahagia? Dalam usia yang masih muda, mampukah seorang wanita, dalam hal ini Masha, mampu mengimbangi pola pikir suaminya yang sudah lebih banyak makan asam garam kehidupan? Penulis menceritakan ide biasa ini menjadi sedemikian menariknya sehingga membuat pembaca betah menyimaknya. Selain itu lewat bahasa yang dipergunakan, penulis dapat menceritakan hal-hal biasa menjadi demikian indahnya. Kekuatan berbahasa benar-benar bermain di dalam buku ini.

    Mungkin ada baiknya saya cuplikkan sedikit keindahannya,

    ”Kukhayalkan bahwa mimpi-mimpiku, pikiran-pikiranku, dan do’a-do’aku adalah makhluk-makhluk hidup yang dalam keremangan senja ini ada bersamaku, menggelepar-gelepar di atas ranjangku, terkatung-katung di udara di atas badanku.”, Hal.34

    Sayangnya masih ada typo yang muncul, di halaman 34, kata makhluk menjadi kata mahhluk. Lalu di halaman 127, kata pangeran yang berubah menjadi pengeran. Beberapa kata terjemahan yang digunakan juga agak asing di telinga saya, tapi dengan kemudahan internet sekarang ini, saya bisa mencari terjemahannya di KBBI online atau pada kateglo.

    Satu kutipan yang saya suka di dalam buku ini, di halaman 160.

    ”Setiap waktu punya bentuk cintanya sendiri-sendiri.”

    4/5 bintang untuk Leo Tolstoy! :)

    Sekilas tentang Novelet Rumah tangga yang Bahagia:

    Novel ini berjudul asli Семейное счастье (Semeynoye Schast’ye), diterbitkan di The Russian Messenger pada tahun 1859. Uniknya pada tahun 1862 Tolstoy menikahi seorang gadis dengan perbedaan usia 18 tahun, hampir serupa dengan cerita ini, bukan?

    Cuplikan dari beberapa quote buku ini juga muncul di beberapa buku seperti pada Into The Wild karangan Jon Krakauer dan juga muncul di novel The Counterlife karya Phillip Roth.

    Untuk yang penasaran edisi aslinya, mungkin bisa berkunjung ke http://az.lib.ru/t/tolstoj_lew_nikolaewich/text_0039.shtml/

    Menurut referensi sih, ini naskah aslinya. Tapi berhubung saya juga nggak bisa bahasa Rusia, jadi saya nggak bisa baca ceritanya. -_-”

    Alvina Ayuningtyas
    Blogger Buku Indonesia

    Sumber: http://www.facebook.com/notes/alvina-vanila/rumah-tangga-yang-bahagia/10150446012274458
    http://orybooks.blogspot.com/2011/11/runah-tangga-yang-bahagia.html

  3. Ferina berkata:

    Cintaku cinta untuk seumur hidup, karena itu janganlah mengambil sesuatu yang kupandang berharga dalam hidup ini (– hal. 106)

    Masha, Katya dan Sonya, hidup dalam rasa duka setelah ibu mereka meninggal. Kesepian dan kesunyian, itulah yang mereka rasakan. Musim dingin jadi terasa semakin beku dengan kesedihan mereka. Kerabat yang datang mengunjungi mereka, bukannya memberi penghiburan tapi malah semakin membuat suasana jadi muram. Tokoh utama dalam novel ini adalah Masha. Gadis berusia 17 tahun.

    Satu-satunya orang yang ditunggu dan bisa membuat suasana lebih ceria adalah Sergei Mikhailich. Ia adalah sahabat ayah mereka, teman terdekat bagi Masha, Katya dan Sonya. Sergei-lah yang mengurus harta benda peninggalan orang tua mereka. Kedekatan ini membuat Masha mempunyai perasaan lain. Tidak hanya sayang seperti layaknya seorang adik pada kakak, tapi timbul rasa cinta yang lebih mendalam. Tapi, usia mereka terpaut cukup jauh. Hingga rasanya tak mungkin bagi Masha untuk mewujudkan angan-angannya. Dan ternyata, Sergei juga merasakan hal yang sama. Ia pun jatuh cinta pada Masha. Kendala usia membuat Sergei juga tak berani mengungkapkan perasaannya pada Masha.

    Masha jadi kesal, ‘gregetan’, karena sikap Sergei yang terkadang penuh perhatian, tapi kadang menjauh. Sampai akhirnya justru Masha yang memberanikan diri membuka perasaannya. Tapi, bagi Sergei takut. Menurutnya, di usia remaja itu, Masha harusnya bersenang-senang, masih maunya ‘bermain-main’.

    Memang sih, akhirnya mereka menikah (spoiler bukan ya?) Pasangan pengantin baru itu tinggal bersama ibu Sergei yang orangnya ‘apik’ banget. Semua serba teratur dan rapi. Lama-lama, Masha jenuh. Rumah tangganya mulai terasa hambar. Maka untuk membuat Masha senang, Sergei mengajak Masha berlibur ke St. Petersburg.

    Di St. Peterburg inilah Masha kenal dengan ‘dunia lain’. Selama ini ia tinggal di desa, sekarang bertemu dengan orang-orang kota yang kaya, diundang ke pesta sana-sini dan mendapatkan banyak pujian karena kecantikannya, Masha ‘terbuai’, sementara Sergei malah memilih menarik diri dari pergaulan itu.

    Nah, di sinilah mulai kelihatan perbedaan mereka karena usia yang terpau sangat jauh itu. Masha merasa Sergei menjauh dan berubah. Sementara Sergei sendiri terkesan cuek. Saat Masha merasa telah berkorban, Sergei malah bertanya tentang apa maksud pengorbanan itu.

    Jadi, berhasilkan mereka mewujudkan rumah tangga bahagia yang mereka impikan? Berhasilkah mereka menjembatani perbedaan di antara mereka? Sebenarnya ,apa sih arti berkorban itu ya? Kalau salah satu sebenernya gak rela, apa gak malah jadinya bikin sebel dan tersiksa?

    Kisah cinta memang selalu jadi ide yang menarik untuk bikin cerita. Tapi, membuat sesuatu yang berbeda biar ‘keliatan’ itu susah. Di sinilah uniknya cerita ini. Kisah cinta antara dua pasangan yang usianya jauh berbeda.

    Buku klasik memang bukan ‘makanan’ gue. Terjemahannya sedikit membuat gue pusing dengan bahasa yang sangat baku (dan ada kata-kata yang baru pertama kali gue baca), tapi, ternyata, kalimat-kalimatnya mampu membuat gue bertahan membaca buku ini hingga tuntas. Puitis dan indah.

    Hari itu berakhirlah petualangan cintaku dengan suamiku, cintaku yang lama tetap merupakan kenang-kenangan yang indah dan tak ‘kan kembali ….

    … dan kehidupan ini tak pernah berakhir sampai hari ini.

    — hal. 166

    Ferina
    Blogger Buku Indonesia

    Sumber: http://lemari-buku-ku.blogspot.com/2011/11/rumah-tangga-yang-bahagia.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: