Gagasan Ajip Rosidi

Anak Tanah Air
Karya Ajip Rosidi
ISBN 978-979-419-344-0
Pustaka Jaya 2008, 378 hlm.

Ardi yang pada mulanya rajin sembahyang, kemudian menjauhi agama sama sekali karena menyaksikan prakték-prakték yang tidak sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya, untuk akhirnya masuk dalam sebuah organisasi kebudayaan yang berpengaruh pada saat itu dan yang memberinya banyak fasilitas. Akan tetapi di kemudian hari Ardi sadar bahwa ia menempuh jalan yang sesat. Dalam roman ini Ajip Rosidi mencoba mengungkapkan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada tahun 1950-an sampai 1965, sekaligus mengungkapkan kehidupan seniman (khususnya pelukis) dan situasi politik di Indonésia pada tahun-tahun itu.


Hidup Tanpa Ijazah

Karya Ajip Rosidi
ISBN 978-979-419-345-7
Pustaka Jaya 2008, 1.330 hlm.

Yang mengesankan dalam buku Ajip Rosidi ini, justru tidak ada nostalgia, tidak ada keangkuhan, tidak pula ada ambisi, ceritanya polos dan bersahaja, seakan-akan laporan hasil penelitian atau biografi orang lain. Ajip tidak ber¬usaha membangkitkan rasa sayang dan simpati para pembaca ataupun rasa rindu pada dirinya sendiri. Dia rupanya tidak kagum pada anak ajaib dari masa kanak-kanaknya. Dia bahkan mengesampingkan semua pera¬saan dan émosi pribadi. Dia menyebut nama ratus¬an orang yang pernah dikenalnya, termasuk beberapa sahabat yang amat karib. Tetapi satu kalimat pun tidak ada mengenai persahabatan. Dia jarang sekali mencacat meninggalnya teman-temannya itu, seakan-akan tidak tersentuh. Ini jelas suatu sikap sengaja: buku ini dianggap dan diperlakukan sebagai wadah fakta dan peristiwa, bukan tempat mencurahkan hati. Bukan karya sastera pula. Seluruh bukunya ditulis dengan gaya polos dan seadanya, tanpa usaha bergaya dan berseni.


Kiai Hamam Djafar dan Pondok Pabelan

Karya Ajip Rosidi
ISBN 978-979-419-347-1
Pustaka Jaya 2008, 494 hlm.

Buku ini menghimpun tulisan berbagai pihak yang mempunyai ikatan emosional yang kuat kepada sang Kiai dan Pondok: para mantan santri, keluarga, guru, dan para sahabat. Mereka menyoroti apa adanya tentang sosok dan jati diri sang Kiai dan sekaligus jati diri Pondok Pabelan secara utuh. Kiai Haji Hamam Dja’far dilahirkan di Desa Pabelan, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah, tanggal 26 Februari 1938 dari pasangan Kiai Dja’far dan Nyai Haji Hadijah. Setelah nyantri dan mengabdi pada almamaternya, dalam usia 25 tahun ia menghidupkan kembali Pondok yang sudah lama mati suri.

Korupsi dan Kebudayaan
Karya Ajip Rosidi
ISBN 978-979-419-365-5
Pustaka Jaya 2009, 200 hlm.

“Korupsi sudah menjadi budaya”, ujar Bung Hatta sekian puluh tahun yang lalu. Ajip Rosidi dalam kumpulan karangannya Korupsi dan Kebudayaan, seolah hendak membuktikan atau mendukungnya. Tentu bukan karena sekadar adanya kemiripan kata-kata. Di dalamnya ada rasa gelisah, ingin tahu, dan rasa geram yang dikemas dengan daya kritis—kadang bercampur dengan praduga. Tulisannya campur sari akal dan rasa, menjangkau rentang waktu 5 abad ke belakang, menyentuh isyu-isyu masa kini, bahkan memantulkan harapan masa depan. Itu semua sungguh mewakili alam pikiran sebagian—kalau bukan sebagian besar—kelompok masyarakat. (Érry Riyana Hardjapamekas)

Sepanjang apa yang saya ketahui, sudah jarang ada pembahasan mengenai korupsi yang mengambil rujukan ke masa silam, apalagi ke masa kerajaan Mataram, mungkin karena terlalu jauh dan kontéknya sangat berbéda dengan réalitas sekarang. Namun Kang Ajip, dengan pemaparan yang menarik, justru melihat korupsi yang menggila sekarang ini sebagai gejala yang berakar pada watak dan perilaku para pembesar pada zaman kerajaan di Nusantara. Di sini perpecahan dalam tubuh kerajaan atau pemberontakan memperebutkan tahta kerajaan yang melibatkan kerabat kerajaan sepanjang sejarah kerajaan atau kesultanan di seluruh Nusantara, dilihat sebagai période awal yang melahirkan méntalitas budaya korup yang lebih mementingkan upaya memperkaya diri atau golongan daripada menjaga keutuhan dan kepentingan bangsa dan negara. (Teten Masduki)

Masyitoh
Karya Ajip Rosidi
ISBN 978-979-419-340-2
Pustaka Jaya 2009, 144 hlm.

Cerita tentang Masyitoh terdapat dalam al-Hadits yang meriwayatkan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Kisah tentang sahaya Fir’aon yang tidak ragu mengorban¬kan diri dalam membela dan memper¬tahankan kepercayaannya kepada Allah SWT, sangat digemari oleh umat Islam. Sejak berabad-abad kisah duka tersebut menjadi sumber inspirasi bagi umat Islam. Masyitoh menjadi wanita pahlawan dalam iman dan tauhid kepada Yang Mahaesa.

Masyitoh menjadi lambang manusia tauhid serta iman terhadap Tuhan Yang Mahaesa. Manusia teladan yang menjadi cita-cita ideal umat Islam. Dalam menegakkan hak Allah, Masyitoh bersedia mengorbankan dirinya sendiri.

Pengorbanan Masyitoh bukanlah pengorbanan yang didorong oleh motif-motif kepentingan pribadi: Ia rela mati bukanlah karena mengharapkan ganjaran surga atau takut masuk neraka saja, melainkan murni timbul dari hati yang ikhlas untuk menegakkan hak Allah.

Orang dan Bambu Jepang
Karya Ajip Rosidi
ISBN 978-979-419-312-7
Pustaka Jaya 2009, 208 hlm.

Selama 22 tahun Ajip Rosidi bermukim di Jepang. Sebagai gai-jin (orang asing) di sela-sela kesibukannya mengajar di universitas, ia banyak mengamati berbagai segi kehidupan masyarakat Jepang. Hasil-hasil pengamatannya, dari pérspéktif pribadi, ia tuliskan baik dalam bahasa Indonésia maupun bahasa Sunda, dalam bentuk ésai maupun surat terbuka. Orang dan Bambu Jepang menghimpun 28 ésai mengenai kehidupan masyarakat Jepang yang ditulisnya dalam tahun terakhir ia mengajar di Osaka Gaikokugo Daigaku (Osaka Gaidai).

Pengamatannya diperkaya dengan bahan-bahan bacaan yang rélevan dan dituturkan dengan bahasa yang mengalir lancar, sederhana, dan mudah dimengerti. Segi-segi kehidupan orang Jepang yang teramati dalam tulisan-tulisannya seperti jadi pesan tersendiri bagi masyarakat Indonésia. Dilengkapi dengan daftar sejumah kosa kata bahasa Jepang dan dihiasi sejumlah foto yang menggambarkan kehidupan orang Jepang, buku ini juga memberikan bahan yang cukup kaya bagi siapa saja yang hendak mengenal seluk-beluk kehidupan di Jepang. Orang dan Bambu Jepang adalah sejenis jembatan yang dapat memperantarai peningkatan saling pengertian di antara para penghuni lingkungan budaya yang berlainan.

Puisi Indonesia Modern: Sebuah Pengantar
Karya Ajip Rosidi
ISBN 978-979-419-051-7
Pustaka Jaya 2009, 132 hlm.

Menggambarkan perkembangan puisi Indonesia sejak awal kebangkitannya sampai szekarang. Ditunjukkannya pokok-pokok pemikiran serta perubahan-perubahannya di samping memberikan pandangan-pandangannya sendiri yang tidak selalu sejalan dengan pendapat para kritisi lainnya. Tentang puisi Sutardji Calzoum Bachri yang oleh sebagian kritisi dianggap sebagai puisi mantra, misalnya, Ajip menunjukkan bahwa puisi Sutardji ternyata lebih dekat dengan puisi modern daripada dengan mantra mana pun.

Buku ini sarat dengan informasi dan pendapat tentang puisi Indonesia modern, dan karenanya merupakan pengantar yang tepat untuk mengenal dan memahami puisi Indonesia modern. Penting terutama bagi para mahasiswa, pelajar, guru dan para peneliti sastera Indonesia.

Iklan
Comments
One Response to “Gagasan Ajip Rosidi”
  1. Distributor Buku CV. Shaum Media Utama Ingin Bekerjasama Dengan Penerbitan Anda Dalam Pemasaran Buku Kejaringan Kami. Adapun Bentuk Kerjasamanya Dengan Sistem Konsinyasi Titip Jual.
    email : shaummediautama@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: