Abdul Aziz Rasjid

Ada situasi yang mengharukan saat saya membaca blog ini: https://demipustakajaya.wordpress.com/, setidaknya haru yang saya alami secara pribadi berkaitan penerbitan buku sastra yang di masa lalu berjaya dan saat ini gelisah.

Penerbitan itu bernama Pustaka Jaya.

Di masa kanak saya, beberapa buku-buku sastra terbitan Pustaka Jaya (selanjutnya disebut PJ) lewat kebaikan Ibu saya ikut berperan mengembangkan suatu sikap yang saat ini saya pahami sebagai upaya meneropong kemungkinan perilaku-perilaku manusia yang terceritakan dalam karya sastra.

Novel Namaku Hiroko karya Nh. Dini (Pustaka Jaya, 1977), salah satu novel yang pertama kali saya baca di usia belasan. Lewat novel ini secara emotif saya diajak bersimpati pada riwayat Hiroko (gadis Jepang) yang melakukan berbagai uasaha untuk merubah nasibnya dari miskin menjadi kaya. Beberapa buku terbitan Pustaka Jaya yang lain, semisal Hikayat Lebak karya Rob Nieuwenhuys (1977) mengenalkan sisi lain keperibadian Douwes Dekker/Multatuli yang menulis karya besar bertajuk Max Havelaar.

Berlalunya waktu, saya pun bertemu dengan pribadi Chairil Anwar selain lewat puisinya juga lewat pemaparan S. Takdir Alisjahbana lewat buku Perjuangan Tanggung Jawab Kesusastraan (PJ. cet.2.1984) dalam bab khusus bertajuk “Penilaian Chairil Anwar Kembali”. Juga lewat Arief Budiman dalam buku Chairil Anwar Sebuah Pertemuan (PJ. 1976) saya mengerti tentang keberbagain kemungkinan pemaknaan puisi dengan pengalaman masing-masing pembaca. Yang juga tak saya lupakan ada kumpulan cerpen Di Tengah Keluarga karya Ajip Rosidi (PJ. cet 5. 2003) yang menyentuh perasaan dan kumpulan cerpen Si Rangka (PJ. 2002) karya Riyono Pratikto yang setiap kali saya baca ulang tetap membuat bulu kuduk berdiri.

Buku-buku tersebut saya kira bertemu dengan saya membawa keunikan masing-masing. Kebanyakan buku-buku itu saya baca kembali ketika tak sengaja saya dapatkan/beli di toko-toko buku loak di area jalan Wilis kota Malang (tempat saya lahir) atau di toko buku loak alun-alun Purwokerto (tempat saya kini tinggal).

Malam ini, secara tak sengaja saya mendapat informasi yang ditulis begini: “Pustaka Jaya membutuhkan uluran tangan kita agar bisa terus hadir. Banyak buku cetak ulangnya tidak terjual dan akhirnya menumpuk di gudang. Mari kita kenalkan kembali Pustaka Jaya kepada publik! Agar makin banyak yang cinta Pustaka Jaya”.

Saya pribadi haru membaca uraian itu. Mungkin untuk saat ini saya belum punya usul tentang bagaimana strategi-strategi yang diperlukan PJ agar usaha penerbitannya dapat pulih kembali. Saya hanya ingin menyatakan: bahwa saya punya kedekatan emotif yang sangat pribadi dengan PJ. Dan ada kemungkinan, pembaca-pembaca PJ yang lain punya kesamaan pengalaman dan kesamaan perasaan semacam yang saya alami. Kesamaan-kesamaan pengalaman dan perasaan itulah yang saya kira dapat menjadi kemungkinan terbukanya dilaog untuk bertukar pikiran tentang bagaimana kerja penerbitan PJ dapat pulih kembali.

Abdul Aziz Rasjid
abdulazirasjid@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: